BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

Jumat, 22 Maret 2013

LAPORAN HASIL TES ENNEAGRAM



IDENTITAS SUBJEK

            Nama                                       : Eka Yuni Rilianti
            Jenis Kelamin                          : Perempuan
            Alamat                                                : Jl. Mulyosari Utara 18 Surabaya
            Tanggal lahir                           : 25 Juni 1991
            Usia                                         : 22 tahun
            Pendidikan terakhir                 : SMA
            Agama                                     : Islam
            Suku Bangsa                           : Indonesia
            Latar Belakang Budaya          : Jawa Tengah
            Urutan dalam Keluarga           : Anak ke-1 dari 2 bersaudara

Berikut adalah hasil Tes Enneagram, subjek termasuk tipe ke-9 yaitu The Mediator, subjek perlu menghindari konflik dan ketegangan. Mereka ingin mempertahankan harmoni dengan orang lain (atau setidaknya dengan orang lain kunci) dan untuk menjaga perdamaian biaya apapun. Mereka mampu mengabaikan apapun yang mungkin mengganggu harmoni ini penting. Mereka juga lebih memilih hal yang tetap stabil, dan mereka menolak perubahan atau gangguan.
Subjek merasa diabaikan sebagai anak-anak. Mereka menggambarkan situasi keluarga yang berkisar dari kelalaian untuk menjadi dibayangi oleh saudara untuk diabaikan atau diserang ketika mereka berdiri untuk ide-ide mereka sendiri. Apa yang umum bagi semua prototipe masa kanak-kanak adalah rasa tidak didengarkan ketika pendapat dikemukakan dan menyadari bahwa menunjukkan kemarahan secara langsung tidak mendapatkan pendapat mereka didengar.

                                                                                           Surabaya, 22 Maret 2013
                                                                                                      Pemeriksa


                                                                                                  Eka Yuni Rilianti
                                                                                                        5090128

LAPORAN HASIL THE BIG FIVE PERSONALITY TEST

IDENTITAS SUBJEK

            Nama                                       : Eka Yuni Rilianti
            Jenis Kelamin                          : Perempuan
            Alamat                                     : Jl. Mulyosari Utara 18 Surabaya
            Tanggal lahir                           : 25 Juni 1991
            Usia                                         : 22 tahun
            Pendidikan terakhir                 : SMA
            Agama                                     : Islam
            Suku Bangsa                           : Indonesia
            Latar Belakang Budaya          : Jawa Tengah
            Urutan dalam Keluarga           : Anak ke-1 dari 2 bersaudara

Lima besar ciri-ciri kepribadian subjek adalah :
1.         Extraversion mencerminkan seberapa banyak subjek berorientasi pada hal-hal di luar diri sendiri dan memperoleh kepuasan dari berinteraksi dengan orang lain
2.         Kesadaran (Conscientiousness) mencerminkan bagaimana hati subjek, baik dalam hal organisasi dan aturan. 
3.         Neuroticism adalah tendensi untuk memunculkan emosi negatif.
4.         Keramahan (Agreeableness) mencerminkan seberapa banyak subjek suka dan mencoba menyenangkan orang lain. 
5.         Keterbukaan (Openness) mencerminkan seberapa banyak subjek mencari pengalaman baru.

                                                                                           Surabaya, 22 Maret 2013
                                                                                                      Pemeriksa


                                                                                                  Eka Yuni Rilianti
                                                                                                        5090128

LAPORAN HASIL TES MBTI




IDENTITAS SUBJEK

            Nama                                       : Eka Yuni Rilianti
            Jenis Kelamin                          : Perempuan
            Alamat                                     : Jl. Mulyosari Utara 18 Surabaya
            Tanggal lahir                           : 25 Juni 1991
            Usia                                         : 22 tahun
            Pendidikan terakhir                 : SMA
            Agama                                     : Islam
            Suku Bangsa                           : Indonesia
            Latar Belakang Budaya          : Jawa Tengah
            Urutan dalam Keluarga           : Anak ke-1 dari 2 bersaudara

Berdasarkan hasil tes Myers-Briggs Type Indicator (MBTI), diketahui bahwa subjek memiliki kepribadian Introvert (11%), Sensing (1%), Feeling (25%), Judging (1%). Subjek sering menemukan diri mereka dalam pekerjaan yang baik melibatkan banyak interaksi dengan orang lain dan / atau memerlukan ketelitian dan ketekunan. Mereka bekerja dalam organisasi dari berbagai ukuran dan industri, di mana sebagai aturan mereka bekerja dengan orang-orang.
Subjek berdasarkan potensi tersebut, sesuai bekerja di bidang perawatan kesehatan (perawat, perawatan pasien dan pelayanan medis, serta pekerjaan administrasi), berbagai organisasi masyarakat perawatan, pekerja sosial, dan berorientasi layanan profesi.

                                                                                           Surabaya, 22 Maret 2013
                                                                                                      Pemeriksa


                                                                                                  Eka Yuni Rilianti
                                                                                                        5090128

Jumat, 15 Maret 2013

KESEJAHTERAAN SESEORANG DI SUATU TEMPAT

Eka Yuni Rilianti (5090128) * Akses Informasi

Terdapat 40 persen pelajar di Jawa Tengah dan Jawa Timur tidak betah dengan lingkungan sekolah karena kondisi sekolah tidak menyenangkan. Akibatnya pelajar sering membolos yang berakibat pada penurunan kualitas pendidikan. Hasil Penelitian Fakultas Psikologi UGM pada SMU dan SMK di empat kota besar di Jawa Tengah dan Jawa Timur mengungkap 12 persen siswa mengaku pernah mendapat kekerasan di sekolah, 15 persen diantaranya mengalami cedera. Peneliti Fakultas Psikologi, Rahmat Hidayat mengatakan meski penelitian yang dilakukan tidak mengambil sample wilayah DIY namun diharapkan sekolah di DIY menciptakan suasana kondusif agar siswa betah di sekolah. Hasil penelitian tidak menyimpulkan hubungan ketidaknyamanan suasana sekolah dengan tawuran pelajar. Pendidikan adalah hal penting bagi masyarakat, termasuk halnya remaja. Para siswa memerlukan kenyamanan dengan lingkungan sekolah untuk mendukung proses belajar. Jika ditinjau dari kacamata psikologi, subjective well-being adalah melibatkan evaluasi subjektif seseorang di dunia (Chan 2013). Secara khusus, Diener (1984, 2000) mendefinisikan subjective well-being sebagai konstruk dengan tiga komponen yang mencakup kepuasan hidup, pengaruh positif atau pengalaman sering emosi yang menyenangkan, dan rendahnya tingkat pengaruh negatif atau tidak adanya relatif emosi yang tidak menyenangkan (Chan 2013). Maka dari itu, diharap guru, orang tua, dan antar siswa sendiri harus bersinergi menciptakan suasana nyaman di sekolah. Kondisi lingkungan sekolah mempengaruhi kesehatan fisik dan mental siswa dalam membantu peningkatan aktualiasasi diri. Berikut adalah hasil penelitian sebelumnya terkait dengan subjective well-being : Peneliti Metode Hasil David W. Chan (2013) Sampel dari 143 guru Hong Kong Cina. Hasil ini menunjukkan bahwa rasa syukur sebagai prediktor dalam kepuasan hidup dan positif . Selda Celen Demirtas, Esin Tezer (2012) Sampel terhadap 391 mahasiswa (169 wanita, 222 pria) di universitas. Kepuasan hidup secara signifikan oleh kepuasan hubungan dan eksplorasi kejuruan, dan komitmen. Fikret Gülaçtı (2010) Sampel 87 siswa Dukungan sosial yang diterima dari keluarga merupakan prediktor signifikan dari subjective well-being. Kesimpulannya yaitu hal-hal yang meliputi subjective well-being adalah terdapat rasa syukur yang mampu memberikan kepuasan hidup. kepuasan hubungan dan eksplorasi kejuruan, maupun komitmen, juga adanya dukungan sosial yang diterima seseorang. Semakin kita mensyukuri segala hal yang kita miliki, maka semakin puas dalam hidup. Semakin besar kita mendapat dukungan sosial, maka subjective well-being juga besar. * Dibawah ini adalah abstrak dari masing-masing jurnal yang telah saya dapatkan terkait subjective well-being : Chan, D. W. (2013). "Subjective well-being of Hong Kong Chinese teachers: The contribution of gratitude, forgiveness, and the orientations to happiness." Teaching and Teacher Education 32(0): 22-30. This study investigated whether gratitude and forgiveness contribute to subjective well-being (life satisfaction, positive affect, and negative affect) above the contribution of the three orientations to happiness in a sample of 143 Hong Kong Chinese teachers. Gratitude and forgiveness correlated substantially and significantly with each other, with the meaningful-life orientation, and with subjective well-being. They explained a substantial amount of variance in the prediction of subjective well-being above orientations to happiness. These findings and the notable contribution of forgiveness to negative affect were discussed in the context of developing effective positive interventions for enhancement of subjective well-being among teachers. Demirtas, S. C. and E. Tezer (2012). "Romantic Relationship Satisfaction, Commitment to Career Choices and Subjective Well-Being." Procedia - Social and Behavioral Sciences 46(0): 2542-2549. This study explored the role of romantic relationship satisfaction and two dimensions of career commitment (vocational exploration and commitment and tendency to foreclose) in subjective well-being among 391 (169 females, 222 males) senior university students. The results of two separate multiple regression analyses yielded that life satisfaction was significantly predicted by relationship satisfaction and vocational exploration and commitment whereas positive and negative emotions were significantly predicted by relationship satisfaction, tendency to foreclose and vocational exploration and commitment. The implications, limitations and future directions for research were discussed. DoÄŸan, T., F. Sapmaz, et al. (2012). "Meaning in Life and Subjective Well-Being among Turkish University Students." Procedia - Social and Behavioral Sciences 55(0): 612-617. The aim of this study was to investigate the relationships between meaning in life and subjective well-being. The sample of the study consisted of 232 university students (171 female / 61male) from Sakarya University. The Satisfaction with Life Scale, The Positive-Negative Affect Scale and The Meaning in Life Questionnaire were used to collect data. In data analysis, Pearson correlation coefficients and multiple regression analysis were used. The findings showed that presence of meaning in life and search for meaning in life significantly predict subjective well-being. According to regression analysis, meaning in life accounts for 34% of the variance within subjective well-being. The findings were discussed and in the light of these findings suggestions for future studies were proposed. Ettema, D., T. Gärling, et al. (2011). "Satisfaction with travel and subjective well-being: Development and test of a measurement tool." Transportation Research Part F: Traffic Psychology and Behaviour 14(3): 167-175. Subjective well-being (SWB) that includes individuals’ cognitive and affective evaluations of life in general is proposed to be a more appropriate measure capturing the benefits individuals derive from travel improvements. We develop and test a measure of travel-related SWB, the nine item self-report satisfaction with travel scale (STS). In a survey of 155 undergraduates, STS, mood ratings, and ratings of SWB were collected for three hypothetical weekdays differing in travel mode, travel time, access to bus stops, and daily activity agenda. The results showed that STS is reliable and differentiates between changes in travel conditions. STS, mood, and to some extent SWB were shown to be affected by travel mode (bus vs. car), travel time, access to bus stops, and the number of activities in the daily agenda. Ettema, D., T. Gärling, et al. (2010). "Out-of-home activities, daily travel, and subjective well-being." Transportation Research Part A: Policy and Practice 44(9): 723-732. It is argued that utility theory that underpins current cost-benefit analyses of daily travel needs to be complemented. An alternative theoretical framework is to this end proposed which applies subjective well-being (SWB) to travel behaviour analysis. It is posited in this theoretical framework that participation in goal-directed activities, facilitated or hindered by travel, contributes to SWB, that the degree of travel-related stress in participating in these activities reduces SWB, and that positive affect associated with travel in itself has an impact on SWB. Gülaçtı, F. (2010). "The effect of perceived social support on subjective well-being." Procedia - Social and Behavioral Sciences 2(2): 3844-3849. The aim of this study is to determine whether perceived social support is a meaningful predictor of subjective well-being. 87 students registered to primary classroom teacher training department joined to this survey. In the phase of data collection, “Subjective Well-Being Scale” and “Multi-Dimensional Perceived Social Support Scale” were used. It was discovered that perceived social support predicted 43 per cent of subjective well-being. In addition to this, it was determined that perceived family support predicted subjective well-being, and on the other hand the support which was perceived towards a special person and perceived friend support did not predicted subjective well-being. Malkoç, A. (2011). "Quality of life and subjective well-being in undergraduate students." Procedia - Social and Behavioral Sciences 15(0): 2843-2847. The study designed to investigate whether the quality of life and its four domains (physical health, psychological health, social relationships and environment) are significant predictors of subjective well-being and also to examine the quality of life in terms of gender, socio-economic level, the number of sibling, living environment, mother education level and father education level. The study was carried out with undergraduate students in German, French and English Language Teaching Departments and Primary Education Department. Subjective Well-Being Scale (Tuzgöl Dost, 2004) and WHOQOL-BREF that was adapted to Turkish by Eser, Fidaner, Fidaner, et al. (1999) were used to collect data. Data were analyzed by using t-test, One Way ANOVA and stepwise regression analysis. Results revealed that quality of life (overall) and psychological health, social relationships and environment domains of quality of life predicted subjective well-being positively whereas physical health domain did not predict subjective well-being. In addition to this, significant difference was found in quality of life scores in terms of socio-economic level. McCabe, S. and S. Johnson (2013). "THE HAPPINESS FACTOR IN TOURISM: SUBJECTIVE WELL-BEING AND SOCIAL TOURISM." Annals of Tourism Research 41(0): 42-65. New research is emerging on the relationships between tourism and quality of life (QOL) and subjective well-being (SWB). This paper develops a measure of SWB and reports findings from a two-step survey that measured changes in well-being amongst low-income individuals who had received financial support to access a holiday break (‘social tourists’). This is the first study to assess well-being amongst social tourists. The findings indicate that tourism contributes to social tourist’s well-being. There are greater effects in some areas including psychological resources, leisure and family life domains contributing to social well-being. Social tourists have lower levels of SWB than the general population. Further studies are needed to compare tourism’s contribution to SWB amongst mainstream tourists. Toghyani, M., M. Kalantari, et al. (2011). "The Effectiveness of Quality of Life Therapy on Subjective Well-Being of Male Adolescents." Procedia - Social and Behavioral Sciences 30(0): 1752-1757. The purpose of this study was to investigate the effectiveness of quality of life therapy on subjective well-being of male adolescents. The sample consisted of 20 male adolescents with low levels of subjective well-being, selected by random cluster sampling. Adolescents were randomly allocated to an experimental and control group. Adolescents in experimental group participated in eight QoLT group sessions. Two groups in pre, post, and follow up assessment completed subjective well-being questionnaire. Data were analysed using analysis of covariance and descriptive statistics. Results showed significant difference on subjective well-being scores between two groups (p < 0.05) in post and follow up assessment. Yakovlev, P. and S. Leguizamon (2012). "Ignorance is not bliss: On the role of education in subjective well-being." The Journal of Socio-Economics 41(6): 806-815. This study estimates the impact of education on self-reported happiness across 50 American states using the recently available Gallup-Healthways Well-Being Index (WBI). A 3SLS model is used to estimate the simultaneous impact of education, income, and health on aggregated subjective well-being (SWB) as measured by state-level WBI. Over 80% of the variation in SWB across states can be explained by differences in education, income, health, age, trust, stress, temperature, religion, and rainfall. Higher education (college degree) has a relatively strong positive effect on SWB, but secondary education (high school) does not. We find no statistically significant educational spillover on SWB across state borders, which suggests that the positive effect of higher education on SWB is mostly due to private non-monetary benefits rather than positive externalities.

Rabu, 30 Juni 2010

Gangguan Psikomatis

Gangguan psikosomatik dapat diartikan sebagai reaksi jiwa pada fisik (soma). Menurut American Psychosomatic Society (2005), gangguan psikosomatik berasal dari bahasa Yunani (Psyche= jiwa dan Soma= fisik), sehingga psikosomatik dapat diartikan sebagai hubungan fisik dan jiwa. Ada hubungan yang sangat erat antara faktor fisik, faktos psikologis, dan sosial terhadap perjalanan suatu penyakit.

Gangguan psikomatik ini mungkin bisa menjawab, "Mengapa seseorang bisa terkena serangan jantung setelah bertengkar dengan bosnya?, Mengapa penyakit rematik jadi jauh lebih sakit ketika penyandangnya stres?, Mengapa kematian penyakit jantung dipengaruhi oleh ada tidaknya depresi?"

Sebuah penyakit dapat muncul akibat banyak faktor. Penyakit dapat muncul sebagai akibat faktor lingkungan atau sosial. Penyakit dapat muncul juga akibat faktor genetik dan keturunan. Berbagai faktor tersebut akan berinteraksi dengan kompleks.

Faktor psikologis dapat sebagai pencetus munculnya gangguan fisik, misalnya gangguan tidur akibat kecemasan, nyeri otot tengkuk akibat stres atau diare dan nyeri ulu hati akibat ketakutan.

Faktor psikologis dapat pula mempengaruhi perjalanan klinis suatu penyakit, misalnya pasien stroke dengan depresi akan memiliki status fungsional yang relatif lebih buruk dibanding tanpa stres, angka kematian penyakit jantung koroner dipengaruhi oleh ada tidaknya depresi.

Faktor psikologis mempengaruhi berbagai organ tubuh melalui mekanisme yang kompleks antara faktor saraf, hormonal, dan imunologis. Stres kronik dapat mempengaruhi sistem saraf simpatis dan aktivasi sistem hormonal (aksis hypothalamus- hipofisis- adrenal).

Pacuan sistem hormon adrenal yang berlangsung lama dihubungkan dengan penekanan sistem imun (sistem kekebalan tubuh) karena hormon steroid. Hal ini menerangkan mengapa seseorang dengan stres kronik lebih mudah sakit. Pacuan sistem saraf simpatis menerangkan munculnya hipertensi, stroke, dan penyakit jantung koroner akibat stress emosional.

Pada beberapa kasus, gangguan psikosomatik dapat muncul reaksi konversi yang aneh dan tidak dapat dijelaskan oleh ilmu kedokteran. Buta mendadak, lumpuh mendadak, atau kesemutan yang sifatnya aneh umum dijumpai. Penderita pada umumnya masih berusia muda, sebagian besar wanita dan didahului oleh stressor yang jelas. Pasien ini akan menjalani berbagai pemeriksaan dengan hasil yang normal. Penulis beberapa kali menjumpai kasus konversi, dan tindakan psikoterapi sangat membantu kesembuhan pasien.

Pada umumnya pasien dengan gangguan psikosomatik sangat meyakini bahwa sumber sakitnya benar-benar berasal dari organ-organ dalam tubuh. Pada praktik klinik sehari-hari, pemberi pelayanan kesehatan seringkali dihadapkan pada permintaan pasien dan keluarganya untuk melakukan pemeriksaan laboratorium dan pencitraan (rontgen).

Pemeriksaan pencitraan dapat membantu untuk mengurangi kecemasan pada pasien dan keluarganya. Bila hasil pemeriksaan normal, maka tidak perlu ada kecemasan yang berlebih tentang suatu kondisi penyakit yang serius. Simak contoh pada Nona E di atas, ia tidak mau dikonsulkan kepada psikolog atau psikiater karena ia sangat yakin bahwa sumber sakitnya adalah fisik dan bukan psikis.

Mengapa ini terjadi? Kajian sosiologis oleh Nettleton (2006) menggambarkan bahwa pasien "lebih suka menderita sakit yang sifatnya nyata". Sebagian besar pasien juga akan sangat resisten bila diberitahu bahwa sakitnya berhubungan dengan stressor psikososial.

Sifat manusia tidak akan suka hidup dalam ketidakpastian, sehingga pasien tetap akan mencari tahu apa penyebab pasti dari sakitnya. Hal ini membuat pencarian penyebab organik akan terus dilakukan. Seorang pasien nyeri kepala primer kronik sangat mungkin akan menjalani pemeriksaan MRI, CT Scan kepala, EEG dan berbagai pemeriksaan laboratorium untuk mencari jawaban "ada sesuatu yang salah dengan diri saya".

Penulis pernah melakukan penelitian yang dipresentasikan pada pertemuan nasional Indonesian Pain Society (Agustus 2007). Penelitian ingin mengungkap harapan pasien nyeri kepala kronik primer (sebagian besar nyeri kepala tipe tegang otot). Nyeri kepala tipe tegang otot merupakan suatu bentuk gangguan psikosomatik yang umum dijumpai.

Hasil penelitian memperlihatkan bahwa hal utama yang pasien inginkan adalah "mencari tahu dari mana nyeri kepala itu berasal". Proses pencarian ini bisa sangat mahal dan menghabiskan sumber daya. Penelitian ini serupa dengan penelitian Davies, dkk (2005) pada 52 pasien nyeri kepala di klinik nyeri tersier. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 77% pasien tetap masih ingin tahu sumber nyeri kepalanya dan 33% masih menginginkan pemeriksaan tambahan.

Bagaimana seorang dengan gangguan psikosomatis dapat diobati?

Seorang petugas kesehatan harus melihat pasien atau klien sebagai makhluk fisik, psikis, sosial, dan spiritual yang utuh. Keluhan seorang pasien harus ditanggapi dengan serius (betapa pun anehnya keluhan tersebut).

Penelitian menunjukkan bahwa pasien psikosomatis seringkali tidak puas dengan pelayanan medis yang didapatnya akibat tanggapan dokter yang tidak serius tentang penyakitnya. Pasien ini akan cenderung berpindah-pindah dokter atau rumah sakit tanpa hasil.

Seorang pasien akan lebih nyaman dan puas bila mendapat penjelasan yang jelas tentang penyakitnya, informasi dan instruksi yang jelas, dan pemeriksaan yang teliti (Verbeck, 2005).

Simak kata-kata Hipocrates, seorang pasien akan merasa lebih nyaman dengan sapaan, senyuman dan bila didengar dengan empati. Komunikasi yang baik harus dijalin untuk mengeksplorasi adanya stressor, dan seringkali tindakan konseling diperlukan. Penelitian menunjukkan bahwa intervensi psikologis klinis sangat membantu dalam banyak kasus. Kerjasama multidisiplin sangat diperlukan demi kebaikan pasien.

Jadi jika Anda sering mengalami berbagai keluhan tapi ketika diperiksa tidak juga ditemukan masalah penyakit, mungkin jawabnya adalah terjadi gangguan psikomatis yang lebih ke arah masalah psikis.

** dikutip dari http://www.info-sehat.com/inside_level2.asp?artid=1496&secid=31&intid=8

Kisah Islami [ Ketika Ramadhan Tiba ]

Tidak terasa bulan Ramadhan sudah bergulir sepuluh hari.
"Gimana Bi ....... dapat ijin dari pak Hendra? " tanya Fitri, isteriku penuh harap.
"Nggak boleh Mi... nggak dapat ijin" jawabku.
Kulihat Fitri terdiam, tapi terlihat semburat kekecewaan nampak pada rona wajahnya. Yah betapa tidak cuti lebaran tahun ini tak kuperoleh dari atasanku. Berarti ini sudah tahun ketujuh kami sekeluarga tidak dapat berlebaran di kampung bersama sanak keluarga. Sejak menikah, sampai kami mempunyai 3 anak, aku dan Fitri memang tidak pernah merasakan berlebaran bersama keluarga.
Pada mulanya aku begitu yakin pak Hendra atasanku akan memberiku cuti 3 pekan, karena aku pikir sudah 2 tahun aku tidak mengambil cuti, dan lagi sudah tujuh kali berturut aku tidak dapat kebagian cuti lebaran. Tapi nyatanya dengan permintaan maaf, pak Hendra menolak ajuan cutiku. Posisiku sebagai chief manager di perusahaan ini mengharuskan aku menangani kontrak kerja yang diadakan sepekan setelah lebaran. Buyar sudah impian mudik lebaran bersama keluarga.Terbayang bagaimana Fitri sudah menyiapkan berbagai macam oleh-oleh untuk keluarga kami. Kebetulan keluargaku dankeluarga Fitri tinggal di kampung yang sama hanya dibatasi oleh sungai yang membelah. Dan bagaimana senangnya anak-anak kami dapat bertemu dengan mamak dan datuk nya. Oh tidak, aku tidak boleh mengecewakan mereka.
" Mi...bagimana kalau ummi saja yang pulang bersama anak-anak?', tanyaku.
"lalu abi bagaimana?" tanya Fitri.
'Yaaa.. habis bagaimana lagi, abi tetap tinggal di Jakarta, ummi dan anak-anak saja yang pulang ke Padang. Azzam, Ahmad dan Afif pasti rindu dengan mamak dan datuk", timpalku, "sudah tiga tahun mereka tidak pernah jumpa. Sekalian ummi refreshing kan, bisa ada yang bantuin momong anak-anak", godaku.
Selama ini kulihat Fitri memang begitu pontang-panting mengurus tiga anak kami yang masih kecil-kecil. Azzam 5 tahun, Ahmad 3 tahun dan Afif 1,5 tahun. Semua pekerjan rumah diurusnya sendiri mulai dari mengurus anak-anak, mengurus keperluanku, membereskan rumah, masak, mencuci dan lain lain. Ditambah lagi kegiatan isteriku untuk mengisi taklim dan pengajian kesana kemari. Harus kuakui bahwa isteriku ini memang wanita aktif yang tidak bisa diam. Aktifitasnya yang begitu padat tidak membuat dirinya merasa lelah. Kalau sering berdiam diri tanpa ada kesibukan, setan selalu mengusik kita, begitu alasannya.
"Bukannya abi yang justru mau istirahat", kata Fitri, " enak kan bi, nggak dengerin kecerewetan umi, atau tangisan anak-anak" . Hemm....aku tersenyum kecut mendengarkan perkataan Fitri. Tetapi dalam hatiku membenarkan apa yang baru Fitri ucapkan. Ya.. waktu istirahat, pikirku nakal. Tidak mendengar suara teguran isteriku, ketika aku masuk rumah tanpa membuka sepatu. Atau ketika makan tanpa membersihkan tangan dengan sabun dan air yang bersih. Atau ketika pergi kantor tanpa menyisir rambut dengan rapi, menggosok sepatu. Atau...beribu teguran yang selalu terdengar di telinga. Memang kuakui Fitri mempunyai sifat resik dan disiplin dalam segala hal. Dengan kesibukannya, kulihat rumah kami selalu rapi dan bersih.
Kebersihan adalah sebagian dari Iman katanya sambil menyitir salah satu hadits Rasulullah. Anak-anak tidak boleh tidur lewat dari pukul 9 malam dan pukul 4.30 harus sudah bangun. Setelah membaca koran dan buku harus diletakkan kembali ketempatnya. Pakaian harus tergantung rapi. Azzam dan Ahmad tampaknya sudah bisa mengikuti pola yang diterapkan umminya. Mereka menjadi anak yang rajin dan disiplin.Aku yang selalu memakai pakaian asal comot sekarang harus mematuhi 'peraturan' Fitri. Pakaian kantor, pakaian rumah, pakaian tidur, pakaian kondangan dipilah-pilahnya, suatu hal yang tak terpikirkan sebelum aku nikah. Pantas saja teman-temanku sering menggoda, menurut mereka penampilanku setelah nikah berubah 180 derajat, lebih rapi dan terurus katanya.
Aku yang sebelum menikah tampil asal-asalan, hingga kamar kostku pun terlihat amburadul, kadang agak jengah juga mendengar 'omelan' Fitri. Sifat kami yang satu ini memang sangat jauh berbeda, seperti langit dan bumi. Ketika aku mengatakan pada Fitri agar ia dapat mengurangi sedikit kedisiplinannya dan keresikannya, ia mengelak dan mengatakan bahwa keluarga muslim harus bersih. Bagaimana kita bisa mendakwahi orang lain agar terbiasa hidup teratur dan bersih sementara diri kita tidak berbuat demikian tangkisnya. Atau katanya kami harus malu kepada tetangga sebelah yang beragama Nasrani apabila rumah kotor, penampilan awut-awutan dan hidup tidak teratur. Sebenarnya betul juga apa yang dikatakannya. Tetapi sekarang aku mau istirahat di rumahku sendiri, aku ingin merasakan sebentar kehidupan seperti dulu sewaktu kost dan sebelum menikah. Bebas......
****
Pulang dari mengantar Fitri dan anak-anak ke Cengkareng, 10 hari sebelum Idul Fitri, rumah tampak begitu lengang sekali. Aku bisa beristirahat dan tenang beriktikaf pikirku. Adzan maghrib terdengar, bismillah... kuhirup air putih dari kulkas. Tidak ada teh hangat dan kolak kesukaanku yang biasanya menemani berbuka puasa. Setelah sholat maghrib kuambil nasi dari rice cooker dan rendang buatan Fitri yang tersimpan di lemari es. Aku malas sekali untuk menghangatkannya. Biarlah... nasi putih plus rendang dingin menjadi santapanku kali ini.
Oh ya, aku harus segera pergi ke Masjid Baiturrohman sekarang. Ada janji sholat tarawih dan pengajian Ramadhan. Piring-piring dan gelas bekas makan kubiarkan saja tergeletak di meja. Kuambil baju sekenaku dan tancap gas menuju masjid karena tak ada waktu lagi.
****
Tidak terasa Ramadhan sudah hampir berlalu. Ini adalah malam Idul Fitri, terdengar suara takbir menggema di masjid-masjid. Ramai sekali. Suara takbir nan merdu. Tiba-tiba aku tersadar dan merasa hampa. " Ya..Alloh, aku begitu rindu kepada isteri dan anak-anakku......aku rindu dengan celoteh dari mulut-mulut kecil mereka, tangis mereka, atau senandung do'a yang sering mereka suarakan, dan juga rindu dengan senyum Fitri, serta teguran-tegurannya". Butir-butir kristal berjatuhan tak terasa di atas sajadah panjangku. Tangiskupun tak dapat ku bendung lagi. Ramadhan, bulan yang penuh berkah akan meninggalkanku dan kerinduanku akan keluargaku membuat aku tak bisa menahan tangis.
Disuasana ramai seperti sekarang ini hanya kesunyian yang aku rasakan. Aku merasa Alloh mencabut sementara nikmat yang telah diberikanNya. Yaitu nikmat berkumpul dengan keluarga. Terasa sekarang ini betapa nikmat itu ternyata merupakan karunia besaar sekali, yang tidak pernah kusadari selama ini. Nikmat kesenangan berkumpul dengan keluarga kurasakan setelah nikmat itu tidak ada untuk sementara.

Aku ingat bagaimana wajah Fitri yang mendadak cemberut ketika aku pulang kantor tanpa melepas sepatu walaupun kulihat dia sedang mengepel lantai. Atau bagaimana kesalnya ia ketika aku memporak-porandakan lagi lemari buku yang baru saja dibereskannya hanya karena ingin mencari sebuah buku saja. Kuingat pula kurang lebih 4 bulan yang lalu ia mengatakan dengan sangat hati-hati kepadaku bahwa mengurus Azzam, Ahmad dan Afif lebih mudah ketimbang mengurusku. Aku yang mendengarnya hanya tersenyum geli, dan dengan santai kujawab bahwa aku terlalu sibuk dengan pekerjaan di luar rumah. Perasaan bersalah menumpuk di dada, aku yang seharusnya membantu meringankan beban Fitri malah membuat pekerjaanya bertambah. Maafkan aku Fitri, karena telah membuatmu bertambah repot selama ini..... Ramadhan kali ini telah memberiku banyak pelajaran.
Pagi-pagi aku bersiap untuk menunaikan shalat Idul Fitri, kucari baju yang cocok. Tetapi tak ada baju yang sesuai di lemari pakaian. Kulihat di ujung kamar ada seonggok pakaian kotor yang belum sempat kucuci apalagi kuseterika. Terpaksa aku mengambil baju baru yang masih terbungkus plastik. Andaikan Fitri ada pasti dengan sigap ia menyiapkan segala keperluanku. Kutolehkan pandangan ke sekitar rumah.....ooou, rumah tampak kotor sekali. Piring-piring dan gelas kotor menumpuk di dapur, lantai tampak kusam, jendela berdebu, buku dan koran berserakan di mana-mana. Di halaman bunga bunga kesayangan Fitri tampak layu dan daun-daun kering berguguran dimana-mana. Tak sejuk dipandang mata.
Aku bergegas melangkah menuju lapangan untuk menunaikan Shalat Idul Fitri. Di jalan terlihat banyak anak-anak kecil bergandengan riang dengan kedua orang tua mereka....senang sekali .Tiba-tiba aku merasa cemburu sekali, itu sebabnya pulang dari shalat Idul Fitri segera kutelepon mereka dan kukatakan agar sesegera mungkin mereka kembali ke Jakarta. Rinduku tak tertahan lagi.
****
Hari ini aku bahagia sekali isteri dan anak-anakku telah tiba kembali di Jakarta. Di perjalanan pulang dari Bandara Soekarno-Hatta, banyak sekali cerita-cerita lucu yang kudengar. Bagaimana Azzam berceloteh tentang keheranannya melihat kerbau yang dilepas begitu saja di sawah. Ahmad yang gemar mengejar bebek di halaman. Tak ketinggalan pula Fitri begitu semangat menceritakan bagaimana mamak senang sekali pada Afif yang menurutnya amat mirip dengannya. Subhanalloh ...mereka adalah Qurrata 'ayun bagiku. Diam-diam kubaca do'a "Robbana hablanaa min azwazina wa dzuriyatinaa quratta'ayun waja'alna lilmutaqina imamah". Terima kasih ya Alloh ..... Engkau telah memberiku anak-anak yang sholeh, sehat dan pintar. Engkau telah memberiku isteri yang sholehah, baik, dan rajin.
Namun begitu tiba di rumah raut muka Fitri yang cerah terlihat berubah seketika...... Ia terdiam dan kemudian terpekik......."Masya Allah abi,..... ini rumah apa kapal pecah?" Dalam hati aku sudah menduga. " Maafkan aku Fitri, insya Allah ini yang terakhir kali......" bisikku seraya membantunya membereskan semuanya.

**dikutip dari http://cerpenislami.blogspot.com/2006/09/kisah-islami-ketika-ramadhan-tiba.html

Rabu, 10 Maret 2010

ABOUT PHOBIA

PHOBIA ITUUU..

Secara umum, phobia adalah rasa ketakutan kuat (berlebihan) terhadap suatu benda, situasi, atau kejadian, yang ditandai dengan keinginan untuk ngejauhin sesuatu yang ditakuti itu.

Bedanya sama rasa takut biasa adalah, hal yang ditakuti sebenarnya nggak menyeramkan untuk sebagain besar orang. Contohnya Rachel Green dalam serial Friends. Tokoh yang di perankan Jennifer Anniston ini ceritanya selalu ngejauhin ayunan karena waktu kecil, rambutnya pernah nyangkut di rantai pegangannya.

Kalo udah parah, penderitanya bisa terserang panik saat ngeliat hal yang dia takutin. Sesak nafas, deg-degan, keringat dingin, gemetaran, bahkan sampe nggak bisa menggerakkan badannya.

Jenis phobia pun macam-macam, ada yang takut ketinggian, takut gelap, takut naik lift, takut naik pesawat terbang, dll. Untuk dua kasus terakhir di atas, ada seorang ibu yang menderitanya sekaligus. Ketika suaminya dirawat di rumah sakit, tepatnya di lantai 9, si ibu pun nggak bisa jenguk karena nggak berani naik lift. Ia juga masih menunda kepergiannya untuk menunaikan ibadah Haji karena nggak berani naik pesawat terbang!

Johnny Depp dan P. Diddy juga ternyata menderita coulrophobia alias takut sama badut. Sedangkan mantan suami Angelina Jolie, Billy Bob Thornton takut sama mebel antik! Aneh kan?! Karena sifatnya yang nggak rasional itu, dunia medis menganggap phobia sebagai gangguan psikologis. Dan penelitian memang membuktikan bahwa phobia termasuk salah satu bentuk gangguan kejiwaan yang paling sering ditemui di masyarakat dan merupakan gangguan psikologis terbesar ketiga setelah depresi dan kecanduan alkohol.

PHOBIA TERJADI KARENA..

Sama kayak jenisnya, ternyata penyebab phobia juga macem-macem. Analisa yang pertama karena adanya faktor biologis di dalam tubuh, seperti meningkatnya aliran darah dan metabolisme di otak. Bisa juga karena ada sesuatu yang nggak normal di struktur otak. Tapi kebanyakan psikolog setuju, phobia lebih sering disebabkan oleh kejadian traumatis kayak yang dialami Rachel Green tadi. Kabarnya nih, beberapa hari setelah bom bali meledak para korbannya yang selamat, jadi phobia sama api dan suara keras. Kejadian traumatis, seperti inilah yang jadi penyebab phobia paling umum. Masih ada penyebab lainnya yang dianalisa oleh psikolog, yaitu phobia juga bisa terjadi karena budaya. Seperti di Jepang, Cina dan Korea, masyarakatnya takut banget sama angka 4 (tetraphobia) sedangkan di Italia takut sama angka 17 yang dianggapnya angka sial! Memang nggak rasional, tapi bener-bener terjadi!

ELIMINATE YOUR PHOBIA

Woody Allen, actok dan sutradara Hollywood yang juga ngisi suara di film animasi “Antz”, rela nyetir mobil bermil-mil lebih jauh untuk nyari jalan alternatif supaya nggak lewat terowongan. Masalahnya dia seorang claustrophobic alias takut ruang sempit atau ruang tertutup. Kalau udah mengganggu aktivitas penderitanya seperti Woody Allen dan ibu yang takut naik lift dan pesawat terbang tadi, berarti udah saatnya phobia itu disembuhin! Saat ini, para psikolog dan psikiater udah punya banyak metode untuk menyembuhkan phobia. Mulai dari berbagai jenis terapi, hipnotis, obat-obatan, sampai melibatkan alat-alat berteknologi canggih. Seserdehana apa pun, jangan anggap remeh phobia. Karena nggak cuma bakal nganggu aktivitas dan kehidupan sosial kamu, tapi phobia juga bisa membahayakan jantung kamu! Soalnya serangan jantung dan stroke bisa dating karena cemas berlebihan dan jantung yang berdebar-debar terlalu sering.

phobia

CERITA SEPUTAR PHOBIA

  • R.Kelly, Whoopi Goldberg dan Dalai Lama, termasuk kategori selebrities with Aviophobia, yaitu phobia terbang.
  • Kim Basinger, Rose McGowan dan si bintang Home Alone, Macaulay Culkin adalah penderita Agoraphobia, yaitu takut sama tempat umum dan keramaian. Aneh juga ya, ada seleb yang phobianya kayak gitu?
  • Penyanyi dan pencipta lagu, John Meyer punya 14 track di albumnya “Room for Squares”. Padahal track ke 13 nggak ada suara apa-apa alias hening selama 0,2 detik dan nggak ada title-nya di cover album. Kemungkinan besar, John Meyer pengidap triskaidekaphobia, takut sama angka 13!
  • Masih tentang triskadeikaphobia. Adolf Hitler juga penderitanya. Pesawat temput NAZI yang tadinya bernomer seri He-112 diganti menjadi He-100 untuk menghindari adanya seri He-113. And, do you notice, nggak ada mobil yang bernomer 13 di arena Formula 1 (F1). Mobil nomer 13 dihilangkan setelah ada dua pembalap meninggal memakai nomer tersebut.

so.. adakah dari anda sekalian yg memelihara phobia?


**dikutip dari http://www.artiku.com/2008/04/17/fear-of-phobia/